ALien sereniTY

Sabtu, 03 Desember 2016

,
guardian.ng

Aku seorang perempuan yang tentunya memiliki cinta pertama. Sebenarnya definisi cinta pertama tergantung dari apa yang kita inginkan, sudut pandang mana yang kita lihat, dan perasaan seperti apa yang kita alami. Tidak harua selalu pacar pertama. Cinta pertamaku ialah ia yang pertama kali membuat aku menunggu balasan pesan singkat tiga hari hanya untuk menjawab satu pertanyaan. Ia yang membuatku mengenal bahwa musik tidak hanya bergenre pop. Ia yang membuat aku untuk belajar tentang bagaimana pentingnya menjadi seorang  pemimpin. Ia yang berkata “haruskah aku yang bilang kepada kedua orang tua mu untuk percaya kepada setiap apa yang kamu lakukan?”. Ia yang hanya berani menemuiku untuk berbicara di rumahku. Ia yang dengan nyamannya menghabiskan waktu seperempat harinya bersamaku dengan saling bertukar cerita. Ia yang kemudian menerima keadaan bahwa aku tengah mengalami cinta sesaat di masa remaja. Ia yang memanggil nama lengkapku ketika aku malas memberi kabar. Ia yang berkata padaku “kabar itu sangat penting, terlebih kabarmu untuk kedua orang tua mu”. Ia yang mempercayai alien di luar angkasa sana. Ia yang memiliki cinta terhadap daerah tempat nya lahir. Terakhir ia yang memiliki ambisius.

Lalu apakah hidup ini harus kuhabiskan dengan ia?. Manusia memiliki kognisinya masing – masing. Tidak terlepas dari fakta, aku menghabiskan empat tahun hidupku ini memasuki dunia mekanika kuantum dan kalkulus, serta ia yang ku tahu mengikhlaskan dunia matrix nya untuk menguatkan mimpinya dari sisi yang lain menjadi seorang seniman. Aku masih berharap melalui sisa hidupku dengan pretelan – pretelan aneh bersama ia, dan ku tahu terakhir kali ia masih menganggapku sebagai rumahnya. Hanya sesuatu yang lain yang tidak kusadari menghampiriku, mungkin ia juga. Kini aku hanya tahu untuk tidak berjalan kembali menemui ia, meraih tangannya dan menuntunnya.


Aku hanya tidak tahu bagaimana harus mengakhirinya dan melepaskannya. Untuk hal yang damai di masa depan, ini kupastikan tulisan terakhir ku untuknya.

Rabu, 16 November 2016

,
www.gambar-katakata.com

Ini sebuah runtutan memori tentang penantian yang dimulai ketika aku menginjakan kaki di kota Bandung

“Mari bertemu di taman kampus depan dua patung kembar” itu hanya sebuah usikan dari kelembaman yang telah lama bersarang, kembali bergetar

Bercerita bagaimana lukisan dengan background museum pendidikan yang kala itu sudah lama sekali tapi masih belum kokoh berdiri

Aku, pendengar yang baik. Itu yang bisa kulakukan

Ada beberapa lempar tawa saat itu dibalik pantangnya kita bertatap
“Mari kita pergi ke kedutaan besar negara lain di Jakarta, aku ingin ke Australia. Oh ya, lalu mampir ke Kota Tua”, aku tersenyum dan mengangguk. Cemas.
Berlalu,

“Mari menemukan keindahan kampung halaman kita, aku tau ada jejaknya di museum Geologi”. Kita beriringan dengan selingan “Gedung yang tinggi itu bisa diukur ketinggiannya kan tanpa harus praktek. Pakai ilusi optik?” Aku kembali tersenyum serta menjelaskan sedikit teori fisika yang aku ketahui. Aku ingat kita masih sempat berfoto disana, dengan senyuman.

Sampai pada suatu titik dimana aku tidak menyukainya. Ada sepatah janji yang diucapkannya lalu tidak ditepati. Kemudian aku tau ia pergi untuk menemui siapa.

Terakhir, setelah sekian lama. “Mari bertemu dipelataran Al-Furqon, untuk yang terakhir kali” Aku yang memintanya. Tidak lebih dari lima menit, hanya menepati janjiku ketika aku bernadzar “kalau aku di UPI”. “Berikan aku semacam hadiah ya” katanya.

Aku menepatinya. Lalu pergi untuk yang terbaik, sepertinya.