,
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 20 April 2018
Rabu, 21 Maret 2018
,
![]() |
| http://twistynoodle.com |
Jemari menari seperti kail didalam lautan
Menentukan arah untuk bergerak tapi hanya menunggu angin
Menuju bantalan halus didalam rusuk badan
Tapi tertahan kesakitan
Aku bilang berhenti menangis
Tapi kau tetap meringis
Aku bilang berhenti mengendus
Tapi kau tetap berhembus
Jika hanya aku yang berdiam, akankah kau tersenyum berseri?
Jika hanya aku yang berdiam, akankah kau terus berdiri?
Aku akan tinggalkan senyumku untukmu
Karena aku sanggup mengais senyum yang lain dalam tandu
Aku akan serahkan saripati yang manis dalam candu
Agar kau mampu mengais keindahan dalam berudu
Rahayu Dwi Harnum
#HappyWorldPoetryDay
Sabtu, 25 November 2017
,
Senin, 14 November 2016
,
Waktu tidak akan bisa
menjawab, berapa banyak ilmu yang ia berikan
Bukan seorang petualang
tidak masalah
Bukan seorang
cendekiawan pun tidak masalah
Tidak akan pernah habis
cerita untuk ia katakan
Tidur dan terbangun lebih
awal dariku dengan tugas lebih berat
Sering menyeringai
memberitahuku bahwa aku mengerjakan sesuatu yang salah
Sering dan bahkan
mendekati selalu aku abaikan
Namun ia tetap
tersenyum ketika aku pulang hanya untuk makan
Dulu, ia selalu
memegang kedua tanganku untuk menyeberang
Selalu mengarahkan
tanganku untuk menengadah saat bercakap dengan Tuhan
Mengajarkanku alif, ba,
ta hingga zuz ‘ama
A,B,C,D sampai tulisan
bersambung
Sekarang, ia tidak
lebih tinggi pendidikannya dariku
Tidak lebih banyak tahu
tentang teknologi daripada aku
Tidak lebih mengerti
tentang hukum-hukum fisika
Tidak lebih pandai
menghitung matematika
Teruntuk ia yang selalu
aku rindukan dengan imbalan
Kulitmu yang semakin
keriput karena menimbang beratnya aku hidup
Aku hanya ingin hidup
terus bersamamu dan terhenti di usia ini
Untuk mencintaimu, ibu
Tanpa harus aku
bahagiakan
Rabu, 16 Januari 2013
,
Mungkin bersembunyi dibalik hitam
Mentari seakan tak mampu sampaikan kehangatan
Meski aku melihatnya jelas di balik tirai
Aku terus berjalan melawan arah
Sepertinya tak akan pernah sampai ke puncak
Tangan dan kakiku terdiam membeku
Meski aku terduduk diatas 4 roda yang berjalan
Ku lingkarkan syal hitam di leherku
Mencoba patahkan kedinginan itu
Hangat mentari masih kucari pagi ini
Meski sedikit kecewa dengan sikap kita yang egois karena tak jumpa
Hari esok masih bisa ku dapati
Dan aku kini berjalan sendiri
Menangis dibawah mentari menyala tak enak bukan?
Melawan mungkin lebih dari seribu pantangan
Tapi satu tujuan besar mengalahkan alasan keseribu
Berharap sosok itu ada disana
Meski hanya melambaikan tangan dan sedikit senyuman
Hujan pun turun dan hapuskan bayangan
Sosok indah berjaket tebal itu pun hilang ku harap
Aku tetap melukiskan senyuman di kaca itu
Dengan hiasan nama nya di sekelilingku
Seharusnya hal ini tak apa ku dapat
Karena tujuan kita berbeda bukan?
Langit sore ini timbulkan keindahan
Dan aku yakin kita merasakan kesamaan
Karena senja ini kita lihat bersama meski kita tak berpegang tangan





