ALien sereniTY

Tampilkan postingan dengan label A Twist In My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A Twist In My Story. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Februari 2020

,


Kamu selalu bilang akhir - akhir ini,
"Apakah kamu akan tetap mensupportku?"

Aku hanya dapat menjawab iya.



Aku merasa berjalan sendiri, sementara kamu berhenti dengan semua keluhanmu.
Aku merasa selalu tersenyum sendiri, sementara kau seringnya menangis karena cemas dengan hidupmu.

Bukankah aku selalu berkata siap, sementara kau seringnya percaya diri lalu tidak lalu percaya diri lagi dan lalu tidak.

Karena itulah aku mulai bertanya pada diriku sendiri,

Aku tidak tau, apakah aku masih mencintaimu seperti pertama kali kita mendengarkan lagu - lagu sigur ros?.
Aku tidak tau, apakah aku masih mencintaimu seperti pertama kali kita bercanda tentang kepiting di karang - karang pantai?.

Aku tidak tau, apakah mencintai akan cukup hanya dengan cinta.

Rabu, 01 Januari 2020

,
Sudah 2020
Aku hanya ingin sehat
Aku akan mengurangi minum kopi

Sabtu, 07 September 2019

,
Image result for angin
Source : www.idntimes.com

Hai. Sudah lama.

Aku masih terjaga tengah malam ini, karena arabika yang ku sesap sore hari kemarin. Tepatnya 6 jam yang lalu.

Tidak ada yang berubah selain kerisauan ku yang bergeser. Sudah satu tahun aku tidak di Bandung. Kota yang akan selalu memiliki kenangan tersendiri, entah bagaimanapun. Menceritakan aku bagaimana orang - orang datang dan pergi.

Orang yang pergi, seutuhnya ia yang pernah hadir. Sepintas ataupun berdiam, sejenak.
Banyak yang mengajarkanku tanpa sengaja artinya bertegur sapa dan melempar senyum. Kawan - kawanku yang mungkin lima tahun kedepan sudah sebagian hilang dalam memori ingatanku yang sempit.

Orang yang pergi, ada yang ku ketahui. Disana. Tapi tidak bisa kutemui

Orang yang pergi, tidak kuketahui. Benar - benar tanpa jejak. Tetap tidak bisa kutemui.

Lima bulan yang lalu. Orang yang pergi dan selalu ku tulis disini sejak 2013 datang menghampiri kembali. Ia melontarkan pertanyaan yang ku kira tawaran.

Aku sudah menganggapnya orang yang pergi sebelumnya.

Tapi suara hati ternyata tidak begitu. Harapanku muncul kembali.

Aku memikirkannya malam ini. Kupikir ini hanya gurauan, aku harus kembali memposisikan dia sebagai orang yang pergi. Tanpa harus ku ketahui, dan semoga tidak ku temui.

Senin, 29 Juli 2019

,
source : https://dr-rocky.com







... seharusnya aku sadar,
selama ini pun,
 ia tidak pernah serius terhadapku.

Senin, 13 Mei 2019

,
Source : http://id.pinterest.com/dianeedwards116/ying-yangs/

Senin, 13 Mei Pukul 09.06 WIB

"ia mengajakku untuk hidup bersamanya".


Aku berpikir, mungkin untuk pindah hidup di luar negeri.

Minggu, 17 Maret 2019

,

http://www.beranda.co.id


Ia bergumam kepadaku.
“ayo pindah keluar negeri. Aku tidak ingin sendiri!”
Aku yakinkan ia hanya bergumam.

Ia tidak berpikir sampai kepada tegangan sumber listrik diluar negeri lebih dari 220V, aku akan kewalahan. Terlebih jika aku harus meninggalkan keseluruhan hidup yang monoton ini. Hidup yang tidak ingin ku tinggalkan.

Bukan tidak berani. Aku ingin pergi ke luar negeri, tapi tidak untuk tinggal, disaat ini. 
Mungkin lima tahun lagi setelah tabunganku cukup, setelah rencanaku mantap, dan setelah aku semakin paham bahwasanya hidup akan dijalani sendirian.

...tapi dapat kamu simpulkan, aku tidak seberani itu sekarang.

Minggu, 16 Desember 2018

,

Sumber : instagram @westtours

Gemercik hujan di minggu pagi. Tidak deras, hanya menjadikan sendu.

Dua ribu delapan belas akan berakhir, menuju pagi yang sedikit dingin.

Terimakasih dua ribu delapan belas, kau akan menjadi sejarah pertama.

Sinusoidal dua gelombang. Februari, April, September, dan Juli dimulai dari lembah.

Penuh kenangan dalam ruas trotoar merah, dari keramaian menuju kesepian dibalik pedasnya yang diiringi panas namun nikmat.

Kita terlalu banyak meminta pada Tuhan hingga pohon – pohon cemburu.

Angin meriuh pada kibasan jalan yang kita lintasi, kita tersenyum saling mengagumi.


Resah.


Akhirnya memutuskan pergi tanpa cela dan penolakan.

Aku yang pergi, aku pula yang sedih.

Jumat, 04 Mei 2018

,
http://www.desainsekarang.com


Saya pernah menjalani hal – hal paling berat selama 22 tahun dalam hidup saya. Tentang membangun semangat dan percaya diri dalam menulis skripsi. Banyak faktor yang mempengaruhi terhambatnya penulisan skripsi dan setiap orang akan memiliki faktor yang berbeda. Faktor pertama bukan berawal dari ketika kita mengontrak sidang skripsi tentunya, melainkan dengan perjalanan dari semester awal ketika kuliah. S1 untuk saat ini dipatok sampai dengan masa delapan semester. Bukan tidak mungkin bagi lulusan dokter sekalipun untuk menyelesaikannya dalam kurun waktu tersebut. Apalagi hanya untuk seseorang yang kuliah di jurusan Fisika. Entah saya harus menyalahkan siapa?, dari awal perkuliahan mulai terlihat bahwa saya mengalami beberapa kesulitan dari segi hasil nilai akhir. Saat itu hasil akhir nilai Kalkulus, Matfis 1, Fisdas 1, dan termodinamika yang harus MENGULANG. Shock? Jelas, tapi “What should I do? Cry?” ya, saya menangis tapi tidak lama. Kekacauan berlangsung lagi di semester lima ketika teman – teman saya sudah mengontrak mekanika, fisika modern, fisika zat padat dan lainnya di semester kemarin saya baru akan memulainya saat itu. Hasilnya? Fisika modern, fisika inti dan fisika kuantum saya harus MENGULANG. Alhasil di semester delapan yang seharusnya saya mulai untuk mengakhiri perkuliahan, saya masih menyisakan begitu banyak SKS untuk saya kontrak. Negosiasi berlangsung antara saya dan kedua orang tua yang pada akhirnya beliau memberikan saya kesempatan untuk menambah satu semester untuk menyelesaikannya.

Semester sembilan memang saya sudah mulai mengontrak skripsi, tapi waktu itu saya masih mengontrak mata kuliah fisika statistik dan bahkan mengulang fisika kuantum. Mulai dari bulan agustus, faktor kedua penghambat penulisan skripsi bagi saya muncul. Alih – alih saya merencanakan bahwa waktu liburan akan saya habiskan untuk membuat alat dan mengambil data, dibulan itu laptop saya harus diperbaiki selama satu bulan dan saya harus pergi meninggalkan kosan saya karena tidak sanggup membayar uang sewa. Kegiatan menulis masih tetap berlangsung di lab komputasi fisika sambil saya mencoba mengambil data awal yang akan saya gunakan untuk penelitian skripsi. Satu bulan berlalu dan akan memasuki September, data awal yang saya butuhkan belum saya dapatkan. Hal tersebut disebabkan tidak terdeteksi nya sinyal sensor yang saya gunakan oleh osiloskop. Bodohnya, waktu itu saya masih malas – malasan bertemu dosen pembimbing. Alasannya karena takut dan ya, semacam masih ada waktu dua bulan sampai Desember. (Padahal membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menulis sekalipun!). Di bulan itu pula, laptop yang baru selesai diperbaiki terjatuh dari ketinggian sekitar 1 meter dan mengalami kerusakan di bagian Hard disk. Bukan apa – apa memang, tapi saya shock berat saat itu. Draft awal tulisan saya yang saya simpan dan tidak ada copy revisi terbaru di disk lainnya hilang. Saya kembali menulis dari awal dengan bekal beberapa jurnal yang tersisa di flashdisk.

Bulan oktober saya  masih berkutat dengan penelitian awal yang saya rencakan dengan perasaan gelisah memikirkan “saya harus punya laptop!” tapi tidak mungkin untuk meminta ke orang tua. Memasukan proposal dan mendapatkan SK, kemudian sampai pada bulan November. Saya belum mendapatkan apa – apa!. Lagi – lagi “What should I do? Cry?”. Enggak! Saya gak akan selesai kalau menangis, kemudian saya memberanikan diri untuk mengobrol dengan dosen pembimbing yang sebenarnya dalam jangka waktu tiga bulan tersebut selalu bertanya kepada saya “Gimana Rahayu? Sudah sampai mana?” yang selalu saya jawab “Masih karakterisasi pak, dan menulis”. Padahal mau nulis apa? Data saja belum dapat dan saya gak ada ide sama sekali untuk nulis latar belakang sekalipun.

Lemahnya pengetahuan saya tentang penelitian yang direkomendasikan oleh dosen pembimbing menjadi sebuah hal yang sangat serius, hingga pada akhirnya saya mengemukakan pendapat tentang kesulitan yang saya hadapi sambil merekomendasikan penelitian apa yang setidaknya bisa saya kerjakan dalam waktu tiga bulan mengambil data. Pembimbing saya menyetujui di bulan November untuk melakukan penggantian konten penelitian skripsi. Hal tersebut membuat saya harus kembali dari nol untuk mencari referensi dan studi literatur yang membutuhkan waktu satu bulan untuk saya mendapatkan draft kasar penulisan awal. Desember saya benar – benar berhenti karena terhalangnya ujian akhir dua mata kuliah yang saya kontrak di semester itu dan karena libur semester datang yang menyebabkan pikiran saya terbagi karena ingin pulang, disini sudah tidak betah dan tidak kondusif.

Bulan Januari yang saya lakukan adalah menangis, meminta maaf kepada kedua orang tua saya karena tidak bisa menepati janji untuk lulus di bulan ini dan beberapa hal yang tidak perlu disebutkan, akhirnya kedua orang tua saya meskipun memang berat beliau mengusahakan untuk membayar kembali SPP semester itu. Saya melemah di semester ini, menganggap diri saya adalah mahasiswa paling bodoh karena tidak bisa selesai tepat waktu dan tentunya tidak bisa membayar SPP sendiri atas kelalaian diri sendiri. Masih di Januari, saya berusaha keras untuk mendapatkan data awal yang saya butuhkan dan tentunya menghilangkan faktor – faktor luar yang dapat menggangu seperti menonaktifkan instagram, grup – grup line yang selalu membahas “sidang” sejak bulan Agustus lalu dan lebih memantapkan hati untuk tidak mengindahkan omongan orang lain. Bulan ini saya benar – benar menjadi seorang yang apatis (padahal biasanya selalu seperti itu). Saya tidak tahu kondisi “luar”, yang saya kerjakan adalah berdiam di lab selama 11 jam dan hampir setiap hari dalam lima hari. Mengumpulkan keberanian dan kepercayaan diri, dan hikmahnya saya merasa dekat dengan Tuhan. Selalu diiringi do’a “Saya harus lulus bulan februari”.

Memasuki februari, saya selesai mengambil data awal bahkan data uji prototipe yang saya butuhkan (data akhir). Saya langsung mengolah data tersebut dan mendeskripsikannya kedalam tulisan. Minggu kedua februari, hasil data tersebut saya laporkan kepada dosen pembimbing. Tiga kali pertemuan di minggu kedua tersebut menghasilkan pernyataan “kamu harus mengulang data, ini tidak relevan dan tidak masuk akal!”. Saya gemetar dihadapan dosen pembimbing, mungkin sudah terlihat seperti akan menangis. Bab 4 yang saya ajukan ke dosen pembimbing dengan total kurang lebih 50 halaman itu, bahasa kasarnya “di tolak!”. Terjadi di minggu kedua februari, dan target adalah bulan februari!.

Minggu ketiga februari, saya mereduksi uji prototipe (data akhir) yang saya ambil. Ternyata dua hari pun selesai, saya senang tapi belum bisa benar – benar senang karena belum mendiskusikannya dengan dosen pembimbing. Waktu itu, pagi – pagi saya menemui beliau dengan semangat. Berharap mendengar kata “ACC Bab 4”. Setelah berdiskusi panjang dan sedikit terbata – bata untuk saya ketika menjelaskan kepada beliau, mungkin karena kasihan juga beliau berkata “Hari rabu diskusi Bab 1 – 3 ya!” iya, hari itu hari senin. Saya senang karena hal yang saya kerjakan memiliki progress pada akhirnya. Saya molor sampai hari kamis dan baru menyerahkan Bab 1 – 3 kepada beliau. Kemudian mengalami beberapa kali revisi penulisan, yang memang wajar.

13 Maret 2018, akhirnya tulisan ACC di lembar pengesahan yang dibubuhi tanda tangan kedua pembimbing terpampang nyata, saya dipersilahkan telaah skripsi oleh pembimbing. Saya mulai menyerahkan draft kepada penguji telaah yang menghabiskan waktu satu minggu. Kemudian saya merevisi nya dengan waktu satu bulan. Padahal untuk revisi telaah harusnya dapat selesai dalam waktu paling lama dua minggu. Kenapa saya menyelesaikannya dalam waktu sebulan? Karena bad habit yang saya miliki. Menganggap waktu masih ada sampai bulan April. Karena daftar sidang di bulan Maret saat itu sudah tidak mungkin.

Satu minggu waktu revisian hasil telaah, saya benar – benar tidak mengerjakan apa – apa. Kemudian minggu berikutnya saya sakit. Baru minggu ketiga saya bisa menyelesaikan revisi. Akhirnya di tanggal 14 April saya benar – benar menyelsaikan skripsi yang saya kerjakan dan saya tulis dan mulai bisa mendaftarkan ujian sidang.

26 April 2018 saya mulai membuka kembali PPT skripsi yang telah saya kerjakan. Note di tampilan layar mengatakan bahwa terakhir kali saya membuka PPT tersebut adalah 6 April 2018. Memang saya tipe yang tidak mau terlibat interaksi terlalu banyak jika saya sudah menyelesaikan suatu hal di awal. Kenapa? Suka deg – degan. Malam itu, mulai saya membaca slide PPT yang pernah saya kerjakan tersebut. Terlintas kembali pertanyaan – pertanyaan yang pernah dosen penguji ajukan ketika telaah, saya deg – degan, kepala mulai terasa membesar lalu tidak habis membaca sampai pada pembahasan saya memutuskan untuk tidur.

Esoknya 27 April 2018, waktu ujian sidang dimulai. Pukul 08.00 saya harus memulai, dan sekitar 07.50 baru menyadari kalau slide rekomendasi tidak ada dalam PPT. “Ceroboh”. Pukul 08.00 saya memulai dengan pertanyaan “Saudari Rahayu, apakah anda siap … ?” saya tidak langsung menjawab karena saya pikir pertanyaan tersebut ada lanjutanya, sampai pembimbing bertanya dua kali “Apakah anda siap?”. “Siap”, saya jawab. Mulai dari ucapan basmallah kemudian menyebutkan nama, judul skripsi, dosen pembimbing, serta latar belakang mengambil judul tersebut. Seperti yang direncanakan dan telah saya praktekan berulang – ulang di malam sebelumnya, saya berhasil menyebutkan nama saya sendiri, nama pembimbing, judul skripsi, serta latar belakang pengambilan judul dengan lantang dan jelas tanpa melihat slide. Sejak semalam, yang saya praktikan hanya itu sampai jumlah rekaman di handphone saya berisi 23 file hanya untuk hal tersebut. Persentasi selanjutnya? Ya mengalir, pertanyaan dosen penguji siapa yang tahu kan? Hehe. Hal yang saya syukuri adalah saya mengikuti arahan dosen pembimbing ketika persentasi untuk tidak membawa catatan sekalipun, dan well itu terasa lebih baik ternyata.

Slide yang hanya berjumlah 23 termasuk halaman judul dan terimakasih tersebut saya paparkan, dengan beberapa hal – hal yang tidak terduga. Saya menggambar di papan tulis, memperagakan, mengemukakan alasan, serta menatap mata para dosen penguji secara langsung ketika beliau bertanya. Tips ketika dosen penguji bertanya, biarkan beliau untuk menyelesaikan pertanyaannya. Berikan waktu jeda satu detik untuk kemudian menjawab. Untuk memahami pertanyaan, ya ketika dosen penguji bertanya. Singkirkanlah kebiasaan spontanitas menjawab. Sampai pada slide pembahasan, kedua penguji sudah mulai menuliskan nilai persentasi saya dan suasana mulai sedikit tidak kondusif, konsentrasi saya mulai bias. Salah satu penguji yang memang agak datang terlambat masih terus bertanya, dan cukup alot karena konsentrasi yang mulai bias sehingga pemahaman saya sedikit kacau. Slide pembahasan yang sudah siap ditampilkan dengan jumlah sembilan slide tersebut hanya satu yang berhasil saya tampilkan. Penguji hanya meminta saya menjelaskan “Bagaimana hal tersebut terjadi? Dan kondisi apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi?”. Saya menjawab dengan penuh percaya diri, karena itu hasil penelitian saya. Saya tahu kenapa hal tersebut dapat terjadi. Selesai bertanya saya bermaksud untuk menampilkan slide kesimpulan namun terpotong dengan pernyataan “Baik, terimakasih saudari Rahayu untuk hasil akhirnya silahkan tunggu keputusan yudisium dari Departemen”. Saya masih terdiam, tidak percaya, namun senyum tidak bisa saya lewatkan. Mungkin orang – orang yang waktu itu melihat saya ujian sidang berhasil memotret senyuman terindah saya dengan matanya sendiri.

Hari itu akhirnya datang, dan hari itu juga akhirnya selesai. Saya masih merasa hal tersebut seperti sebuah mimpi yang saya mimpikan sejak satu tahun lalu. Sejak teman – teman sekelas saya sudah beranjak terlebih dahulu. Hari itu menyenangkan, saya tidak bisa berhenti tersenyum ditambah ada seseorang (?) yang saya inginkan menemani diri ini melangkah setelah kebingungan ketika jadwal yudisium selesai, karena memang teman – teman yang dapat menyempatkan hadir untuk mengucapkan selamat hanya segelintir. 

Ini berakhir, untuk memulai suatu yang baru dan tentunya suatu saat harus ku akhiri juga dan memulai lagi yang baru. Itu adalah siklus kehidupan manusia. 

Selamat Sarjana, Rahayu Dwi Harnum. Akhirnya di 27 April 2018, Geheng Enol Satu Officially Sarjana.

Kamis, 05 April 2018

,
abiummi.com


Ia menungguku dibawah teriknya mentari siang itu. Duduk memainkan handphonenya dengan bibir cemberut, namun tetap tampan kulihat. Kuhampiri dengan wajah yang mencoba tanpa merasa bersalah. Aku tidak meminta maaf padanya, namun ku lemparkan sebotol minuman teh kesukaannya. Bibirnya yang cemberut berubah perlahan. Otot tangannya terlihat dibalik kemeja lengan panjangnya yang selalu ia lipatkan setengah. Membuka tutup botol perlahan, menyodorkannya padaku. Aku mengambilnya dan meneguknya sedikit, lalu mengembalikannya. Ia meneguknya sangat cepat hingga habis setengah botol. "Aku mau pergi lagi" kataku singkat, "Nanti baru ku ke kosanmu". "Iya, kamarku masih berantakan". Obrolan yang terlihat tidak nyambung namun tetap ku mengerti. "Oh iya, yang semalam tinggal berapa lagi ku bayar?". "Gak usah". "Kan katamu separuh?". "Iya separuh. Aku separuh, separuhnya kamu". Senyum ini tidak berhasil kusembunyikan darinya. Aku tersipu lalu berlalu.

Selasa, 27 Maret 2018

,
31 Desember will come every year's,
but 31 Desember 2017 will be saved with the moment
"we spend the time together"
- Geheng -

Ini akan terkesan sedikit berlebihan, tapi hal ini benar adanya seperti yang kurasakan. Kita, menjadi dekat entah karena hal apa? hanya saja tahun 2013 berlalu dengan satu peristiwa dalam sebuah kenangan di tepi pantai. Benarkan? Itu awal dari kita, lalu berpisah. Entah siapa yang memulainya, kita tetap memutuskan untuk saling bersapa. Mungkin ada yang berpikir "ini apa - apaan?" tapi aku menyukainya.

Jujur, kalian adalah enam orang teman dari masa mudaku yang kumiliki. Lebih tepatnya yang masih ku miliki hingga tahun 2018 ini. Entah karena aku mencoba menahan kalian untuk pergi? yang jelas aku memiliki kebanggaan tersendiri untuk masih tetap dapat menyapa kalian di grup Whatsapp dengan icon *poop*.

Sejak 2013 pun kita sudah memulai langkah kita masing - masing dengan mimpi seorang anak SMA. Kemudian sekarang, semua dari kalian sudah menyelesaikan tahap awal meraih mimpi anak SMA kalian, meskipun aku belum selesai *hehe* . Tidak apa - apa, kalian masih tetap mempercayaiku untuk menyelesaikannya dengan baik. Menurutku begitu, semoga kalian juga berpikir seperti itu.

Banyak hal yang tidak kita ketahui satu sama lain, tapi fakta bahwa aku merasakan kenyamanan untuk tertawa bersama kalian adalah suatu hal yang perlu aku tegaskan, "aku tidak perlu tahu siapa kalian". Meskipun begitu aku bisa mengatakan dengan sombongnya kepada orang lain tentang "It seems that we really understand a lot about each other. Although I found the feelings that I often have forgotten like I found a treasure". It was that kind of feeling.

Tentang mimpi yang lainnya.

Hei. Kita sudah menjadi wanita sekarang. Bahkan salah satu dari kita sudah memulai terlebih dulu dengan kehadiran kekasih hati dan buah hatinya. Aku sedih sekaligus senang. Sedih karena waktu bermain kita terus meruncing, tapi senang karena kalian akan merasakan bahagia dengan orang yang kalian cintai.

Ahh, aku tidak ingin bersedih. Aku berada di tengah - tengah diantara kalian. Terkadang ingin ku menjadi adik yang tidak membuat kalian khawatir tapi ingin dimanja, dan terkadang aku ingin menjadi sosok kakak yang tegas, bijak, dan tidak ada cela untuk kalian yang sedikit lahir terlambat dibanding aku.

Semoga kita tetap bisa bermain bersama di masa yang akan datang. Masa yang lebih kompleks.

We have unforgettable moments together. Just thinking about each other at that time, it feels like I'm still spending time with you all. We laughed together, eating together and trip together. That moment we doesn't have for a while. Even if we don't say a thing,  I hope we are grateful for each other for being existence when were together.

For me, I can't think of a life without them. There are many days ahead of us, but I feel that I will spend alot of it with them. That's why. When someone says she went somewhere, she went with her friends. That interest for me, because I see that everyone has friends. But when I thought to my self "Who are my friends?" I realized that Geheng are my friends.

During these 5 year's. We still shared our lives. Hoping that we spend the time as a friend, forever.

Terimakasih :)

Kamis, 16 November 2017

,
airmagz.com


Akhir-akhir ini aku lebih senang mendengarkan radio. Itu lebih membuatku seperti aku tidak sendirian. Waktu-waktu sebelumnya, aku sering mendengarkan satu lagu dengan berulang-ulang. Mungkin dalam beberapa waktu kedepan kebiasaanku akan mulai lagi, saat aku mendengarkan sebuah lagu yang menarik. Ini mungkin suatu kebiasaan yang bukan hanya aku miliki, aku yakin orang lain pun demikian. Dengan alasan yang berbeda.

Alasanku memutar lagu yang sama sampai tiga puluh kali mendengarkan ialah pertama, aku akan focus pada suara music yang dilantunkan. Kemudian focus pada bagian lirik. Lalu aku akan mencoba focus pada salah satu instrument yang dilantunkan, entah itu petikan atau rhytme gitar atau lantunan melodi dari piano yang dapat kubedakan.

Dalam waktu dekat dari hari ini kebelakang ada sebuah kabar tentang undur dirinya sang vokalis payung teduh, Mas Is. Mungkin beliau sudah mendapati bahwa pujaan hatinya sudah tidak cantik? atau mendapati bintang yang terang tidak hanya sedikit?

Aku bukan penikmat payung teduh lagi setelah lagu nya yang booming yakni Akad rilis. Aku berhenti dalam tiga lagu diawal yakni ‘Untuk perempuan yang sedang didalam pelukan, Angin pujaan hujan, dan Resah’. Meski sampai saat ini aku tidak hapal keseluruhan lirik dari mereka karena keterbatasanku dalam mengingat.

Ahh, Mas Is kenapa hengkang? Kupikir. Aku belum sempat melihat penampilan kalian dibawah teduh nya hujan dan tatapan, bukannya dilingkup terik matahari dan teriakan. Padahal resahku ingin berdua dengan nya belum usai, karena masih banyak pertimbangan. Bukan haya tentang cinta, tapi tentang masa depan.

[Aku ingin menuliskannya disini tentang ia, tapi kupikir jika teman-temanku tak sengaja membaca ini mereka akan berpikir pada satu sosok yaitu Manggala yang kutegaskan sekarang, aku benar-benar sudah mengakhiri perasaanku untuknya setelah ia terlebih dahulu mengakhirinya untukku. Meskipun ketiga lagu dari Mas Is ini, dulu pernah ku tujukan untuknya].

Aku memang tidak tau music yang bagus seperti apa, yang jelas jika ada perasaan ataupun ingatan yang muncul ketika aku mendengarkannya lalu aku me-repeat lagu tersebut itu berarti aku menyukainya.

Oh iya, bukan tentang payung teduh. Ada satu lagu yang dapat membuat aku sedih sampai menangis atau bahkan senang. Lantunan instrument dari Islandia dengan suara Jonsi. ‘Hey Satan’ dari Sigur Ros. Setelah aku lebih dulu menikmati ‘Hoppipola’ nya. Ahh tapi aku menyayangkan, aku tau band ini dari Gala. Tapi sampai aku bosan, aku akan tetap mendengarkannya.

Jika kau pernah mendengarkan Bjork yang sama dari Islandia pula ini berbeda. Sigur ros tidak berada dalam lirik Bahasa Inggris. Mereka lebih banyak melantunkan Bahasa Islandia, bahkan Bahasa Von yang Jonsi sendiri buat. Ini tidak akan mudah ku jelaskan jika kau benar-benar tidak tau yang dapat menyebabkan ini membosankan. Maka, jika kau benar-benar ingin music yang berbeda dengan balutan instrument yang jarang kau dengarkan, ayo! dengarkan ‘Hoppippola’. Disana kau akan mendapatkan ingatan tentang masa kecilmu, namun aku tidak bertanggung jawab ketika kau akan merasakan sedih. Setelah itu kau bisa memilih sendiri lagu lainnya di youtube seperti ‘Hey Satan, Ara Batur, Agaestis Byrjun, Illgresi, Von, Valtari’ dan lainnya.

Kenapa ini terlihat seperti review sebuah band? Baiklah aku akan mengakhirinya.

Mungkin suatu saat Mas Is dapat kembali dengan lantunan payung teduhnya dibawah teduhnya hujan dengan hiasan tatapan dan senyuman yang dapat kurasakan atau suatu saat nanti sigur ros akan mengadakan konser lagi di Jakarta. Sementara aku akan mulai menemukan sosok yang dapat membiarkan aku menikmati music dengan genre tidak seperti biasanya, atau bahkan sosok yang dapat menemaniku menikmati music dengan genre ini. Membawa semua kenangan yang pernah ku tinggalkan bersama lagu-lagu ini.

Kamis, 12 Oktober 2017

,
gomerblog.com

Tentang mimpi!
Tentang sebuah pengharapan!
Keinginan untuk mejadi seperti apa di masa depan!
Seseorang di masa usia dewasa awal kebanyakan memiliki mimpi, bahkan di setting dari masa remaja akhir.
Lalu, apa hanya aku yang tidak memiliki mimpi?
Pertanyaan yang muncul di masa remaja akhir ku. Menghilang pada masa transisi remaja ke dewasa ku karena aku berhasil melanjutkan study. Kemudian kembali mencuat di masa dewasa awal ku yang sebentar lagi berganti ke pertengahan.
Aku iri dengan mereka, bahkan dengan mimpi mereka yang terdengar konyol. Seperti “aku ingin menjadi make-up artist”, “membuka salon”, “membuka restaurant”, bahkan sampai pada tingkat “menjadi anggota dewan”.
Tapi aku, bahkan tidak tahu apa yang ku sukai. Aku tidak tahu mau menjadi apa. Aku seperti orang bodoh. What’s on earth must be happen to me?
Sampai pada satu titik, apa mimpi kedua orang tuaku?
Apakah mimpi milik mereka tercapai?
Jika tidak, apa akhirnya hidup mereka merasa bahagia?
Aku belum tanyakan ini pada abah, namun satu yang ku yakini. Pengharapan abah yang selalu ia katakan “Cukup anakku tetap sehat, makan dengan baik, bergaul dengan orang lain untuk menjadi baik, tidak lupa memberi kabar, dan tetap pulang ke rumah”. Lalu umi yang selalu bilang “Cukup anakku tidak kedinginan, dan tidur dengan baik” dengan segala bekal yang ia siapkan dan menurutku selalu berlebihan.
Aku selalu gagap untuk berbicara tentang mimpiku karena kebingungan.
Aku tidak bisa berbicara dengan baik terhadap orang-orang.
Dalam pencapaian lainnya “Tidak apakan kalau aku tak memiliki mimpi? Apakah hidup tidak akan kunikmati tanpa memiliki mimpi? Apakah aku akan berdosa jika tidak memiliki mimpi?”.
Hal yang lainnya, Abah dan Umi selalu bilang “Jangan lah kau seperti kami. Ambilah sisi baik dari kami”. Aku selalu berlalu dengan berpikir ketika di ajak berbicara untuk hal seperti itu di masa remajaku.
Entah harus menyesal atau tidak, yang jelas sampai pada kalimat terakhir ini pun aku masih belum memliki mimpi. Karena yang kulihat kedua orang tuaku tampak hidup baik meskipun tidak menjelaskan apakah mereka sempat berhasil dengan mimpi mereka sebelum memutuskan untuk hidup dan mengganti mimpi mereka dengan tuntutan tanggungan apapun untuk menjadi kedua orang tua yang baik.
Hanya saja aku tetap tampak bodoh karena tidak memiliki mimpi.



… yang tidak  belum memiliki mimpi, 
Rahayu.

Minggu, 27 Agustus 2017

,

25 Agustus, kali pertama @fisikakece13 berhasil mendobrak pintu kelulusan untuk meraih gelar dan pengertian mereka terhadap hasil dari pembelajaran selama empat tahun yg rumit.
Kusempatkan mengantar dan memberikan ucapan lewat beberapa warna yg ingin kusampaikan.

Merah pada bunga: ialah apresiasi keberanian yg mereka tunjukan dengan energi dan semangat yg bergairah berhasil memberikan kekuatan untuk mengantarkan mereka dalam capaian yg setimpal.

Hijau pada daun yg kusembunyikan : ialah makna kedamaian dari empat tahun kerumitan yg akan mereka raih karena berhasil menyeimbangkan segala sesuatu hal untuk mencapai tujuan.

Kuning yg membungkus hijaunya daun : ialah energik dan optimis yg menyembunyikan kedamaian yg dicapai dalam hati mereka sehingga menimbulkan keceriaan atas pencapaian yg telah diraih.

Biru pada kertas : Kusampaikan beberapa harapan agar mereka tetap stabil dalam pencapaian mimpi lainnya dengan percaya diri.

Cokelat : Kusisipkan sebuah cokelat yg harganya tak seberapa tapi berharap dapat mewakilkan perasaanku agar kita yg mungkin saja entah kapan lagi dapat berjumpa akan selalu akrab dan saling memberikan rasa aman di masa depan seperti yg telah kita lakukan dalam empat tahun ini.

Hitam pada pita: ialah kehampaan ditinggalkan oleh sebagian dari kita serta rasa duka yg muncul dalam diri ini karena aku ditinggalkan, lebih tepatnya tertinggal oleh mereka.

Bohong!!! kalau kau sedikitpun tidak merasa iri ketika teman-teman sekelasmu mampu menyelesaikan study nya terlebih dulu. Ini bukan cerita tentang bagaimana rasanya begitu down dan khawatirnya karena ingin juga segera sidang sementara masih ada kontrak mata kuliah. Ini ialah sekumpulan kata yang sekedar mengomentari tanpa solusi mengapa mereka harus mempersiapkan 'sesuatu' untuk orang lain yg melaksanakan sidang. Tidak salah bagi orang-orang yg ikut riweuh mempersiapkan "tektek bengek" ketika atmosfir sidang menghampiri. Tapi bagiku, keriweuhan tersebut ialah suatu hal yg menjengkelkan yg sebenarnya tetap bisa kuhilangkan dengan sekali tidur malam saja. Orang-orang sibuk membeli bunga dengan harga yg lumayan dan kupikir bisa dijadikan amunisi untuk hidup ngekos seminggu kedepan. Namun tidak salah, kutegaskan. Orang-orang sibuk membeli boneka dengan harga yg lumayan pula dan kupikir bisa dijadikan amunisi untuk hidup ngekos seminggu kedepan lagi nya. Namun tidak salah, kutegaskan lagi.
Jujur, ini kali pertama kalinya aku meluangkan waktu dan menyisihkan bekalku untuk euforia sidang, karena mereka TEMAN SEKELASKU. Karena untuk teman-teman yg jarang ku temui, ucapan 'selamat, semoga berkah' di instagram dengan emot senyum atau balon dan terompet saja sudah cukup. Kata 'semoga' saja disana sudah merupakan satu kata yg 'mengharapkan keadaan yg baik' dikemudian hari.

Aku pernah bertanya " emang sidang kudu beli selempang ya? Emang sidang kudu ada yg dateng ya? Emang sidang kudu pake Jas?" Ke salah seorang temanku. Dan ia jawab "Gak harus. Gak penting. Pakaianmah kudu, biar rapi aja". Oke. Dan kusimpulkan poin pertama dan kedua gak penting yg juga seolah mendukung apa yg aku pikirkan. Mungkin, maksudnya karena momen ini sekali seumur hidup jadi banyak orang yg dateng biar banyak do'a adalah hal yg tidak salah.

Seperti, apa yg kamu tanam maka akan kamu tuai. Mungkin maksudnya kalau kita ngasih sesuatu ke orang lain, orang lain bakalan punya rasa ingin berbalas budi jadi nanti kita dikasih pula sama orang lain. Semacam barter hadiah (?)

Well, ku tegaskan TIDAK SALAH untuk ikut riweuh dengan sidang orang lain dan TIDAK SALAH juga untuk tidak merayakannya sepertiku. Inimah kulakukan karena mereka orang-orang yg hampir setiap hari berinteraksi denganku (atas sedikit rayuan dari temanku pula).

Tentang sidang, selesai.

Pertanyaan di malam hari dengan hangatnya kuah ramen di ramen AA digerlong. Seseorang kutanya dengan sedikit rengekan. "Kamu iri gak sama teman-teman mu disana yg sudah mulai sidang?" Ia menjawab diselingi seruputan kuah ramennya yg selalu pedas. "Manusia ya wajar punya rasa iri. Apalagi kondisi di luar sana banyak tekanan sana-sini. Sampe tukang cendol aja nanya kapan aku wisuda. Salahnya sih, mereka yg pada mau sidang tuh terlalu naif. Memperkirakan semuanya akan berjalan lancar dengan apa yg mereka inginkan. Tanpa peduli dengan keadaan orang sekitar. Kalem aja, tutup telinga. Nanti kita wisuda bareng". Diakhiri dengan dengusan sekali tarik ingusnya. Aku menatapnya secara seksama, memperhatikan kedua matanya yg selalu indah dengan hiasan alis nya yg tebal dibagian pinggir. "Iya sih, gak pure salah mereka. Emang udah waktunya buat sidang. Tapi ya, berisik aja ketelinga teu dimana-mana ngomongin sidang" tambahku.

Senin, 26 Juni 2017

,
http://www.erinclune.com

Comebacknya catatan takbiran setelah 5 bulan hiatus.

Takbir adalah tanda suatu malam akan berubah menjadi siang yang membutuhkan banyak tujuan tapi sedikitnya waktu. Gema takbir memang begitu dinantikan tapi seringkali beriringan dengan kesedihan. Aku yang tiba-tiba merasakan sebuah kesedihan yang entah bisa disebutkan mendalam atau tidak di malam itu. Mungkin karena melamun membayangkan betapa berbedanya malam ini dengan malam-malam gema takbir berkumandang ditahun-tahun sebelumnya. Meski petasan masih beragam menghiasi frekuensi bunyi yang berburu masuk menuju gendang telinga, serta kembang Api yang masih menjadi penghias langit malam di kampungku yang super gelap ini, tetap ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tidak lagi kurasakan di usia ku yang kemarin baru beranjak 21 tahun.

Pertama, tidak adanya teman masa kecilku pulang kampung dari Jakarta (Akhirnya lu kesebut lumayan berarti dalam hidup gue, Yon). Kedua, anak-anak disini tidak ada yang seumuran denganku. Ketiga, usia mereka masih dibawahku, dimana usia tersebut kupikir adalah usia yang harusnya ‘menikmati’ malam takbiran dengan riang. Memang, masalah akhirnya kusimpulkan karena gadget. Tapi gadget tidak bisa sepenuhnya kusalahkan. Ah, mungkin pergeseran zaman. Kesimpulan akhirku dimalam takbiran ini aku sedih. Aku memutuskan untuk tidur, karena kalau ku teruskan untuk terjaga khawatirku kesedihan ini akan menjalar ke momen-momen yang lebih tidak kuinginkan dan akan berdampak ke kesedihan terdalam (galau).

Hari raya pun menghampiri setelah ku tertidur dan ku mulai dengan tegukan kopi pertama setelah satu bulan. Kopi yang spesial dari seorang teman yang jauhnya saat ini 126,75 mil dari Surade. Skip langsung pada tradisi setelah momen sungkem ku pada abah, ummi, dan mamah yang kuakhiri dengan kecupan manis di kedua pipi dan kening mereka. Dengan senyuman dan harapan, mi, bah, mah. Aku masih butuh Tehaer.

Kemudian lanjutan tradisi berkeliling rumah. Karena memang dikampungku, rumahku hanya memiliki enam rumah tetangga (info untuk calonku nih) jadi untuk berkeliling tidaklah susah. Tetanggaku tidaklah banyak, tapi anggota keluarga mereka yang disebabkan tradisi pulang kampung empat kali lipat jumlahnya. Jadi jika satu keluarga hanya berisi 2 orang saja, saat itu bertambah jadi 4 kali lipat kemudian kali 6.

Setiap orang yang kutemui meski tidak ada interaksi sebelumya karena tradisi, tetap wajib aku sungkem pada mereka dengan harapan yang tetap sama. Tehaer? Tidak, semoga di maafkan. Tehaer mah bonus. Dari hasil sungkem itu aku menerima 12 pertanyaan dengan tujuan “Jadi kapan wisuda?” dengan beragam kreasi pertanyaan berbeda. Itu terjadi hanya setelah sholat Id sampai sekitar pukul delapan. Sementara tujuanku di hari itu tidaklah sedikit.
Berhubung abah sedikit tidak enak badan (semoga cepat sembuh) jadi hari itu tujuan kami yang sebelumnya terencana sampai sekitar pukul 3 sore tidak terlaksana. Abah memutuskan mari tinggal di rumah saja, dan menunggu keluarga anak-anak mamah lain yang dipastikan selalu sungkem ke rumah.

(Fast-fast) dari 3 keluarga besar mamah lainnya serta keluarga-keluarga besar 6 tetanggaku lainnya, ku hitung di hari itu aku mendapatkan 27 pertanyaan dengan tujuan “Kapan lulus?” yang kutanggapi sedikit dengan senyuman dan ku aamini di “akhir tahun ini”.
Bukan sebuah masalah sih, bahkan ini sebuah pecutan untuk “ayo Num, segera nulis TA!!”. Mereka diluar sana yang nanya, sebagian besar hanya ingin tau hasil elu. Gak ada yang benar-benar perhatiin proses elu, bahkan ummi abah saja yang biayain elu gak terlalu mau tau elu nugas ampe jam dua pagi tiap hari. Mereka Cuma pengen tau hasil yang elu dapet. Itu mungkin sebagian besar sisi egois dari diri ku.

Sisi baiknya, gak ada. Eh, engga deng pasti selalu ada. Karena setiap mereka yang bertanya “kapan lulus?” Tatapan ummi mengarah padaku dan kuakhiri dengan senyuman dan membuang tatapanku. Belum bisa kuprediksi memang, tapi harapan tahun ini muncul di pikiranku. Semoga saja dan harus.
Seperti yang ku bilang, mereka hanya ingin tahu hasil. Dan hasil yang mereka inginkan pasti harus selalu baik. Proses? Kita yang jalankan dan kita tentukan. Tapi tentu tidak sealu berjalan baik dan lancar. Ujung-ujungnya ya namanya juga hidup.

Ini kisah lebaranku di tahun ini disamping ku tetap makan opor ayam dan ketupat, tidak adanya lagi yang datang ke rumah seperti lebaran-lebaran sebelumnya, kegalauanku tentang banyak hal dibalik pertanyaan “kapan lulus?”. 

Kenapa di post di blog? Pertama karena lama gak nulis, kedua yakali aja orang-orang yang gak sengaja baca do’ain semoga anak ini lulus tahun ini. Aamiin. Biar lebaran tahun depan, ganti pertanyaan “Kerja dimana?” atau bahkan “Kapan nikah?”.

Taqobalallahu minna waminkum,


Mana cerita lebaranmu?

Kamis, 26 Januari 2017

,
Green Day 21 guns
Apakah kamu tau sekarang keadaan ku seperti apa?
Aku terus mengingatmu
Apakah kamu tau saat tersulit apa yang pernah ku alami?
Mencoba melupakan semua rasa tentang mu
Ketika aku memulainya, semua ingatan tentang hujan, buku, mimpi, dan nyanyian bergejolak dipikiranku
Itu dulu, dua tahun kebelakang dari hari ini
Aku mengerti ketika kamu bicara “Jangan lakukan itu, aku masih membutuhkanmu!”
Itu sebuah larangan untukku terus menyayangimu
Sekarang, masihkah kau menyukai bintang pagi?
Yang muncul sekitar jam 03.30 after midnight dari enam tahun lalu
Kita sering membicarakan itu
Waktu memang eksistensi dari kerinduan
Aku mungkin sering mengalami itu sekarang, namun selalu ku tepis
Jujur, ditengah perjuangan akhir ku yang selalu kau mulai dengan kata “kamu pasti bisa” aku membutuhkanmu, sangat membutuhkanmu
Ini sebuah ingatan tentang 21guns yang kau ajarkan untuku, di ruang kosong berbentuk kelas

Terimakasih dan maaf aku tak bisa menghentikan menulisku tentangmu, 

Senin, 02 Januari 2017

,
abusalma.net

Januari 2017. Memasuki tahun ke-4 tinggal di Bandung dengan segala kegelisahan yang hampir memuncak tentang S1 fisika ku, dengan segala kebingungan yang menetap sejak lama. Aku patah hati lagi di tahun kemarin dengan orang yang sama, selalu ku pikir. Mulai malas untuk pulang ke rumah karena bingung hendak menjawab apa dengan segelintir bahkan berlembar - lembar pertanyaan dari orang - orang dirumah. Meskipun disini (Bandung) juga wajahku mulai memerah dan gatal karena rindu rumah. di blog ku yang lalu, yang akan terus ku simpan aku selalu menuliskan resolusi di tahun baru. Kali ini tidak akan banyak, cukup untuk ku lulus S1 di tahun ini, yang sudah sangat menggelisahkan. Oh iya, jangan lupa ngopi.

Rabu, 21 Desember 2016

,
teknikmesinpedia.blogspot.com

Semua cerita ialah fungsi waktu, akan selalu berlalu

Kesedihan yang manis akan selalu terpampang dengan interferensi yang mulai memudar

Sebenarnya memahami, namun karena lembam jadi enggan translasi

Ini bukan lagi kesedihan yang manis, sebuah lembaran surat yang menyayat hati

Tidak berdarah, karena tingkah laku lebih menyakitkan

Aku pikir tak usah kembali karena kelelahan

Hanya terlalu teredam lalu berangsur pulih?


Tapi kau tak stabil, sedikit gaya saja osilasi

Sabtu, 03 Desember 2016

,
guardian.ng

Aku seorang perempuan yang tentunya memiliki cinta pertama. Sebenarnya definisi cinta pertama tergantung dari apa yang kita inginkan, sudut pandang mana yang kita lihat, dan perasaan seperti apa yang kita alami. Tidak harua selalu pacar pertama. Cinta pertamaku ialah ia yang pertama kali membuat aku menunggu balasan pesan singkat tiga hari hanya untuk menjawab satu pertanyaan. Ia yang membuatku mengenal bahwa musik tidak hanya bergenre pop. Ia yang membuat aku untuk belajar tentang bagaimana pentingnya menjadi seorang  pemimpin. Ia yang berkata “haruskah aku yang bilang kepada kedua orang tua mu untuk percaya kepada setiap apa yang kamu lakukan?”. Ia yang hanya berani menemuiku untuk berbicara di rumahku. Ia yang dengan nyamannya menghabiskan waktu seperempat harinya bersamaku dengan saling bertukar cerita. Ia yang kemudian menerima keadaan bahwa aku tengah mengalami cinta sesaat di masa remaja. Ia yang memanggil nama lengkapku ketika aku malas memberi kabar. Ia yang berkata padaku “kabar itu sangat penting, terlebih kabarmu untuk kedua orang tua mu”. Ia yang mempercayai alien di luar angkasa sana. Ia yang memiliki cinta terhadap daerah tempat nya lahir. Terakhir ia yang memiliki ambisius.

Lalu apakah hidup ini harus kuhabiskan dengan ia?. Manusia memiliki kognisinya masing – masing. Tidak terlepas dari fakta, aku menghabiskan empat tahun hidupku ini memasuki dunia mekanika kuantum dan kalkulus, serta ia yang ku tahu mengikhlaskan dunia matrix nya untuk menguatkan mimpinya dari sisi yang lain menjadi seorang seniman. Aku masih berharap melalui sisa hidupku dengan pretelan – pretelan aneh bersama ia, dan ku tahu terakhir kali ia masih menganggapku sebagai rumahnya. Hanya sesuatu yang lain yang tidak kusadari menghampiriku, mungkin ia juga. Kini aku hanya tahu untuk tidak berjalan kembali menemui ia, meraih tangannya dan menuntunnya.


Aku hanya tidak tahu bagaimana harus mengakhirinya dan melepaskannya. Untuk hal yang damai di masa depan, ini kupastikan tulisan terakhir ku untuknya.

Rabu, 16 November 2016

,
www.gambar-katakata.com

Ini sebuah runtutan memori tentang penantian yang dimulai ketika aku menginjakan kaki di kota Bandung

“Mari bertemu di taman kampus depan dua patung kembar” itu hanya sebuah usikan dari kelembaman yang telah lama bersarang, kembali bergetar

Bercerita bagaimana lukisan dengan background museum pendidikan yang kala itu sudah lama sekali tapi masih belum kokoh berdiri

Aku, pendengar yang baik. Itu yang bisa kulakukan

Ada beberapa lempar tawa saat itu dibalik pantangnya kita bertatap
“Mari kita pergi ke kedutaan besar negara lain di Jakarta, aku ingin ke Australia. Oh ya, lalu mampir ke Kota Tua”, aku tersenyum dan mengangguk. Cemas.
Berlalu,

“Mari menemukan keindahan kampung halaman kita, aku tau ada jejaknya di museum Geologi”. Kita beriringan dengan selingan “Gedung yang tinggi itu bisa diukur ketinggiannya kan tanpa harus praktek. Pakai ilusi optik?” Aku kembali tersenyum serta menjelaskan sedikit teori fisika yang aku ketahui. Aku ingat kita masih sempat berfoto disana, dengan senyuman.

Sampai pada suatu titik dimana aku tidak menyukainya. Ada sepatah janji yang diucapkannya lalu tidak ditepati. Kemudian aku tau ia pergi untuk menemui siapa.

Terakhir, setelah sekian lama. “Mari bertemu dipelataran Al-Furqon, untuk yang terakhir kali” Aku yang memintanya. Tidak lebih dari lima menit, hanya menepati janjiku ketika aku bernadzar “kalau aku di UPI”. “Berikan aku semacam hadiah ya” katanya.

Aku menepatinya. Lalu pergi untuk yang terbaik, sepertinya.


Senin, 31 Oktober 2016

,
digaleri.com

Ada satu dataran tinggi tempat tumbuhnya pohon kelapa itu

Setiap dari mereka bersantai menghadap turunnya matahari
Dilangit yang memerah karena kian malam
Gelembung dari deburan ombak kian tinggi
Aku memimpikan ditempat ini kita bermain
Ditemani alunan musik hoppipola dengan bayangan islandia yang kita tahu
Layang – layang yang tidak bisa lagi meninggi karena keterbatasan nilon
Kanvas – kanvas yang masih tergeletak dibiarkan kering
Serta ceracauan yang membuatku tidak nyenyak tidur kutinggalkan
Yang kita tahu hanya menikmati alunan musik selagi ada
Dengan semilir angin dan baunya yang khas


Ada satu dataran tinggi tempat tumbuhnya pohon kelapa ini